Informasi

Informasi Yang Menyeluruh dan Sistematik

Teknologi

Teknologi Dari Masa Kini dan Masa Lalu

Kesehatan

Kesehatan Untuk Orang Yang Di Cinta

Tips

Tips Mengenai Kehidupan Sekitar

Travel

Travel Bareng Temen Yu

Cara Studi Kelayakan Bisnis

Ketika seseorang atau sekelompok orang hendak membangun sebuah bisnis, seringkali ada beberapa hal yang menjadi bahan pertimbangan. Pertimbangan utama dalam membangun sebuah bisnis pastinya menyangkut pada profit. Pertanyaan yang akan muncul dalam proses pertimbangan tersebut biasanya berkutat pada apakah bisnis yang tengah dirintis dan dikembangkan akan menguntungkan atau tidak. Bila menguntungkan, apakah keuntungan tersebut akan berpotensi untuk terus bertambah ataukah hanya akan stagnant? 

Untuk mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, dibutuhkan sebuah penelitian yang ditinjau dari berbagai aspek. Penelitian tersebut nantinya dapat menjadi dasar dari pertimbangan-pertimbangan pelaku usaha untuk menilik apakah sebuah bisnik layak untuk dikerjakan, ditunda, atau bahkan dibatalkan. Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui kelayakan sebuah bisnis dinamakan studi kelayakan bisnis.

 MANFAAT STUDI KELAYAKAN BISNIS

Studi kelayakan bisnis merupakan penelitian yang sangat penting untuk dilakukan sebelum seseorang atau sekelompok orang memulai sebuah usaha. Beberapa manfaat studi kelayakan bisnis, antara lain:

1. Menghindari resiko kerugian

Studi kelayakan bisnis bermanfaat untuk membantu pelaku bisnis menghindari resiko kerugian. Jika pelaku bisnis melewatkan studi kelayakan bisnis dalam perencanaan bisnisnya, ia akan kesulitan untuk mengetahui apakah bisnis tersebut dapat mendatangkan keuntungan atau justru kerugian untuknya. Dengan adanya studi kelayakan bisnis, pelaku bisnis dapat menghindari resiko kerugian dengan langkah menunda atau membatalkan rencana bisnis yang mendapatkan penilaian tidak layak dalam studi kelayakan bisnis.

2. Memudahkan perencanaan bisnis

Studi kelayakan bisnis dapat membantu pelaku bisnis untuk menyusun rencana kegiatan bagi perusahaan. Studi kelayakan bisnis yang telah dilakukan sebelum bisnis dibangun akan memudahkan pelaku bisnis menentukan program perusahaan seperti apa yang dapat mendatangkan benefit lebih bagi perusahaan.
3.      Memudahkan pelaksanaan bisnis

Studi kelayakan bisnis akan berguna untuk membantu pelaku bisnis merealisasikan program-program perusahaan. Pelaku bisnis dapat mengevaluasi kebijakan apa yang sekiranya akan memberikan keuntungan dan kebijakan apa yang justru akan menimbulkan kerugian.
4.      Memudahkan pengawasan

Studi kelayakan bisnis memiliki banyak aspek untuk diteliti. Laporan dari berbagai aspek yang diteliti dalam studi kelayakan bisnis ini nantinya akan memudahkan pelaku bisnis untuk melakukan pengawasan pada perusahaannya. Studi kelayakan bisnis juga memudahkan pelaku pengawasan untuk memberikan data jika sewaktu-waktu dilaksanakan audit, baik secara internal maupun eksternal.
5.      Memudahkan pengendalian

Studi kelayakan bisnis berguna pula untuk memudahkan proses pengendalian dalam perusahaan. Jika sewaktu-waktu terjadi gangguan, pelaku bisnis dapat dengan cepat menentukan aspek mana yang menjadi pusat dari kekacauan tersebut. Selanjutnya, pelaku bisnis dapat dengan cepat pula mengendalikan masalah yang muncul dengan mencari solusi berdasarkan studi kelayakan bisnis yang telah dilakukan sebelumnya.

Studi kelayakan bisnis tidak hanya berguna untuk para pelaku bisnis. Terdapat pihak-pihak lain yang membutuhkan studi kelayakan bisnis untuk membantu mereka mencapai kepentingan masing-masing. Pihak-pihak tersebut antara lain:

1. Pihak Investor

Investor adalah pihak yang menanamkan modal ke sebuah perusahaan. Laporan studi kelayakan bisnis berguna bagi investor untuk menentukan seberapa besar modal yang akan ia tanam di sebuah perusahaan. Hasil studi kelayakan bisnis yang baik akan membuat investor berani menanamkan modal yang besar. Sebaliknya, hasil studi kelayakan bisnis yang buruk akan membuat investor menghindari menanam modal di sebuah perusahaan.

2. Pihak Kreditor

Bagi perusahaan yang membutuhkan modal besar, pelaku bisnis biasanya mengajukan pinjaman pada pihak Bank. Bank sebagai kreditor akan menggunakan laporan studi kelayakan bisnis sebagai dasar pengambilan keputusan apakah akan memberikan pinjaman atau tidak memberikan pinjaman ke suatu perusahaan. Hasil studi kelayakan bisnis yang bagus akan meningkatkan kepercayaan kreditor kepada pengusaha.

3. Pihak Manajemen Perusahaan

Pihak manajemen perusahaan memerlukan laporan studi kelayakan bisnis sebagai indikator atas manajemen yang telah diterapkan selama ini.  Studi kelayakan bisnis juga berguna bagi pihak manajemen untuk mengetahui besaran dana yang akan dibutuhkan serta dapat pula digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan atau mengolah proyek di masa depan.

4. Pihak Pemerintah

Suatu bisnis membutuhkan izin dari pemerintah untuk kepentingan legalitas. Studi kelayakan bisnis dapat digunakan oleh pemerintah sebagai dasar pengambilan keputusan dalam memberikan izin usaha atau proyek.

5. Pihak Masyarakat

Suatu bisnis tidak hanya membutuhkan izin dari pemerintah, namun juga dari masyarakat yang ada di sekitar lokasi usaha. Studi kelayakan bisnis dapat digunakan oleh masyarakat untuk meninjau apakah sebuah badan usaha yang hendak dibangun di kawasan tersebut ramah lingkungan dan dapat bermanfaat bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat.
ILUSTRASI ASPEK STUDI KELAYAKAN BISNIS (KOKO/UCEO)
ILUSTRASI ASPEK STUDI KELAYAKAN BISNIS (KOKO/UCEO)

ASPEK STUDI KELAYAKAN BISNIS

Dalam studi kelayakan bisnis, terdapat beberapa aspek yang dapat diteliti. Aspek-aspek dalam studi kelayakan bisnis tersebut bersifat fleksibel sehingga dapat ditambahkan sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Aspek-aspek dasar yang biasanya diteliti dalam studi kelayakan bisnis antara lain adalah sebagai berikut:

1. Aspek hukum dalam studi kelayakan bisnis

Aspek hukum dalam studi kelayakan bisnis menyangkut pada semua hal terkait legalitas rencana bisnis yang hendak dilakukan oleh perusahaan. Ketentuan-ketentuan hukum tersebut meliputi:

a. Izin lokasi

b. Akte pendirian perusahaan dari notaris

c. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

d. Surat tanda daftar perusahaan

e. Surat izin tempat usaha dari Pemerintah Daerah setempat

f. Surat tanda rekanan dari Pemerintah Daerah setempat

g. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)

2. Aspek ekonomi dan budaya dalam studi kelayakan bisnis

Aspek ekonomi dan budaya dalam studi kelayakan bisnis menyangkut pada dampak suatu badan usaha untuk masyarakat sekitar.

a. Dari segi budaya, penelitian dalam studi kelayakan bisnis akan menjawab bagaimana dampak keberadaan sebuah bisnis terhadap adat istiadat di wilayah setempat

b. Dari segi ekonomi, penelitian dalam studi kelayakan bisnis akan menjawab apakah sebuah bisnis mampu menaikkan atau justru menurunkan rata-rata pendapatan per kapita di wilayah setempat

3. Aspek pasar dan pemasaran dalam studi kelayakan bisnis

Aspek pasar dan pemasaran dalam studi kelayakan bisnis menyangkut pada pertanyaan apakah ada peluang pasar untuk produk yang akan dihasilkan oleh sebuah perusahaan. Aspek tersebut dapat dilihat melalui hal-hal berikut:

a. Potensi pasar, dinilai berdasarkan bentuk pasar/ konsumen yang dipilih

b. Jumlah konsumen potensial. Jumlah ini diketahui melalui proses mengukur dan meramal permintaan dan penawaran berdasarkan produk sejenis yang telah ada saat ini

c. Daya beli masyarakat dengan memperhitungkan perkembangan atau pertumbuhan penduduk

d. Segmentasi, target dan posisi produk di pasar

e. Situasi persaingan di lingkungan industri

f. Sikap, perilaku, dan kepuasan konsumen terhadap produk sejenis saat ini

g. Manajemen pemasaran, terdiri atas analisis persaingan dan bauran pemasaran

4. Aspek teknis dan teknologi dalam studi kelayakan bisnis

Aspek teknis dan teknologi dalam studi kelayakan bisnis menyangkut pada hal-hal teknis dan teknologi yang akan dipakai pada perusahaan tersebut. Aspek-aspek tersebut antara lain terdiri dari:

a. Pemilihan strategi produksi

b. Pemilihan dan perencanaan produk yang akan diproduksi

c. Rencana kualitas

d. Pemilihan teknologi

e. Perencanaan kapasitas produksi

f. Perencanaan letak pabrik

g. Perencanaan tata letak (layout)

h. Perencanaan jumlah produksi

i. Manajemen persediaan

j. Pengawasan kualitas produk

5. Aspek manajemen dalam studi kelayakan bisnis

Aspek manajemen dalam studi kelayakan bisnis menyangkut pada pembangunan dan pengembangan operasional perusahaan. Aspek manajemen memiliki cakupan yang sangat luas, mulai dari manajemen sumber daya manusia hingga manajemen finansial perusahaan. Semua hal yang terkait dengan bagaimana operasional perusahaan dapat dijalankan termasuk pada aspek manajemen dalam studi kelayakan bisnis.

6. Aspek keuangan dalam studi kelayakan bisnis

Aspek keuangan dalam studi kelayakan bisnis menyangkut pada besaran modal dan sumber dana yang akan digunakan dalam membangun sebuah usaha serta kapan dan bagaimana modal tersebut dapat dikembalikan. Jika diuraikan, maka aspek keuangan dalam studi kelayakan bisnis terbagi menjadi:

a. Kebutuhan dana dan sumbernya

b. Aliran kas (cash flow)

c. Biaya modal (cost of capital)

     - Biaya utang

     - Biaya modal sendiri

d. Perihal kepekaan

e. Pemilihan investasi

     - Pilihan leasing atau beli

     - Urutan prioritas proyek bisnis

HAL-HAL YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN SEBELUM MELAKUKAN STUDI KELAYAKAN BISNIS

Sebelum melakukan studi kelayakan bisnis, terdapat beberapa hal yang harus dipertimbangkan. Pertimbangan tersebut bertujuan untuk meminimalisir kesalahan dan kegagalan dalam proses dan hasil studi kelayakan bisnis. Setidaknya ada empat hal dasar yang harus dipertimbangkan sebelum seseorang atau sebuah perusahaan hendak melakukan studi kelayakan bisnis, yakni:

a. Kelengkapan dan keakuratan data serta informasi yang diperoleh

b. Tenaga ahli yang dimiliki dalam tim studi kelayakan bisnis

c. Penentuan metode dan alat ukur yang tepat

d. Loyalitas tim studi kelayakan bisnis

TAHAPAN DALAM STUDI KELAYAKAN BISNIS

1. Penemuan Ide

Tahapan penemuan ide dalam studi kelayakan bisnis harus dimulai dengan menentukan satu atau beberapa ide bisnis yang prospektif. Jika terdapat lebih dari satu ide bisnis, maka ide bisnis yang akhirnya akan dieksekusi harus dipilih dengan mempertimbangkan beberapa hal seperti hal-hal teknis yang harus ditempuh serta potensi laba yang akan diraih.

2. Tahap Penelitian

Setelah ide bisnis dipilih, tahapan selajutnya dalam membuat studi kelayakan bisnis adalah melakukan penelitian yang lebih mendalam sesuai dengan metode ilmiah. Dimulai dari mengumpulkan data dan informasi, mengolah data berdasar teori yang relevan, menganalisis dan menginterpretasikan hasil pengolahan data dengan alat-alat analisis yang sesuai, menyimpulkan hasil, hingga membuat laporan dari hasil penelitian tersebut.

3. Tahap Evaluasi

Tahap evaluasi dalam studi kelayakan bisnis merupakan proses membandingkan sesuatu dengan satu atau beberapa kriteria standar yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif, terutama terkait biaya (cost) yang dikeluarkan dengan manfaat (benefit) yang akan diperoleh.

4. Tahap Pengurutan Usulan yang Layak

Jika terdapat lebih dari satu usulan rencana bisnis yang dianggap layak, maka perlu dilakukan pemilihan rencana bisnis yang memiliki skor tertinggi dalam tahap evaluasi yang telah dilakukan sebelumnya.

5. Tahap Rencana Pelaksanaan

Setelah terpilih sebuah rencana bisnis, maka tahap selanjutya dalam studi kelayakan bisnis adalah menyusun rencana kerja terkait proses realisasi dari rencana pembangunan bisnis tersebut

6. Tahap Pelaksanaan

Setelah semua rencana siap, maka langkah selanjutnya adalah merealisasikan semua rencana yang telah disusun. Jika proses pembangunan bisnis dapat berjalan dengan lancar, maka tahap selanjutnya hanyalah tinggal melakukan operasional bisnis secara rutin.

HASIL STUDI KELAYAKAN BISNIS

Hasil studi kelayakan bisnis merupakan sebuah kumpulan dokumentasi lengkap dalam bentuk tertulis yang mampu memperlihatkan bagaimana sebuah rencana bisnis memiliki nilai-nilai positif dari berbagai aspek yang diteliti. Jika laporan studi kelayakan bisnis dapat menunjukkan banyak nilai positif dalam sebuah rencana bisnis, maka proyek bisnis tersebut dapat disebut sebagai sebuah proyek bisnis yang layak dan mampu untuk dieksekusi. Jika ternyata hasil dalam laporan studi kelayakan bisnis menunjukkan jumlah nilai-nilai negatif sama atau justru lebih tinggi dari nilai-nilai positif, maka proyek bisnis tersebut lebih baik ditunda atau justru dibatalkan.

 Sumber: ciputrauceo

Pengertian Dari Sebuah Pendapatan Atau Penghasilan

PENGERTIAN PENDAPATAN

Pendapatan bukanlah istilah yang asing bagi masyarakat Indonesia. Semua orang dari segala usia, status sosial, ekonomi dan budayapasti pernah mendengar atau bahkan mengucapkan kata pendapatan. Di Indonesia, ada cukup banyak terminologi yang dikaitkan dengan pendapatan. Seperti misalnya pendapatan keluarga, pendapatan masyarakat, pendapatan per kapita, pendapatan daerah, hingga pendapatan negara. Meskipun istilah pendapatan sering kita dengar dan ucapkan, namun tak jarang orang akan kebingungan ketika ditanya “Apa itu pendapatan?”

Pendapatan berasal dari kata dasar “dapat”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian pendapatan adalah hasil kerja (usaha dan sebagainya). Pengertian pendapatan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan definisi pendapatan secara umum. Pada perkembangannya, pengertian pendapatan memiliki penafsiran yang berbeda-beda tergantung dari latar belakang disiplin ilmu yang digunakan untuk menyusun konsep pendapatan bagi pihak-pihak tertentu.

Setidaknya terdapat dua disiplin ilmu yang memiliki penafsiran tersendiri mengenai pengertian pendapatan. Disiplin ilmu yang pertama adalah Ilmu Ekonomi sedangkan yang kedua adalah disiplin Ilmu Akuntansi. Pengertian pendapatan menurut Ilmu Ekonomi adalah nilai maksimum yang dapat dikonsumsi seseorang dalam suatu periode dengan mengharapkan keadaan yang sama pada akhir periode seperti keadaan semula. Pengertian pendapatan menurut Ilmu Ekonomi menitikberatkan pada total kuantitatif pengeluaran terhadap konsumsi selama satu periode. Dengan kata lain, pengertian pendapatan menurut Ilmu Ekonomi adalah jumlah harta kekayaan awal periode ditambah keseluruhan hasil yang diperoleh selama satu periode, bukan hanya yang dikonsumsi.

Pengertian pendapatan menurut Ilmu Ekonomi menutup kemungkinan perubahan lebih dari total harta kekayaan badan usaha pada awal periode dan menekankan pada jumlah nilai statis pada akhir periode. Secara sederhana, pengertian pendapatan menurut Ilmu Ekonomi adalah jumlah harta kekayaan awal periode ditambah perubahan penilaian yang bukan diakibatkan perubahan modal dan hutang.

Sedikit berbeda dengan pengertian pendapatan menurut Ilmu Ekonomi, pengertian pendapatan menurut Ilmu Akuntansi memiliki cukup banyak konsep yang diperoleh dari berbagai literatur akuntansi dan teori akuntansi. Ilmu akuntansi melihat pendapatan sebagai sesuatu yang spesifik dalam pengertian yang lebih mendalam dan terarah. Pada dasarnya, pengertian pendapatan menurut Ilmu Akuntansi dapat ditelusuri dari dua sudut pandang, yaitu:

Konsep Pendapatan yang memusatkan pada arus masuk (inflow) aktiva sebagai hasil dari kegiatan operasi perusahaan. Pendekatan ini menganggap pendapatan sebagai inflow of net asset.
Konsep Pendapatan yang memusatkan perhatian kepada penciptaan barang dan jasa serta penyaluran konsumen atau produsen lainnya, jadi pendekatan ini menganggap pendapatan sebagai outflow of good and services.
Untuk mengetahui pengertian pendapatan, kita juga bisa menyimak pengertian pendapatan menurut para ahli. Menurut M. Munandar, pengertian pendapatan adalah suatu pertambahan aset yang mengakibatkan bertambahnya Owner’s Equity, tetapi bukan karena penambahan modal dari pemiliknya dan bukan pula merupakan pertambahan aset yang disebabkan karena bertambahnya liabilities. Pengertian pendapatan menurut M. Munandar ini tidak jauh berbeda dengan pengertian pendapatan menurut Ilmu Ekonomi.

Sementara itu, pengertian pendapatan menurut Zaki Baridwan adalah aliran masuk atau kenaikan lain aktiva suatu badan usaha atau pelunasan utang (atau kombinasi dari keduanya) selama suatu periode yang berasal dari penyerahan atau pembuatan barang, penyerahan jasa, atau dari kegiatan lain yang merupakan kegiatan utama badan usaha. Pengertian pendapatan Zaki Baridwan ini hampir sama dengan pengertian pendapatan menurut Ilmu Akuntansi.

KLASIFIKASI PENDAPATAN

Pendapatan dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu pendapatan operasional dan pendapatan non operasional. Pendapatan operasional adalah pendapatan yang timbul dari penjualan barang dagangan, produk, atau jasa dalam periode tertentu dalam rangka kegiatan utama atau yang menjadi tujuan utama perusahaan yang berhubungan langsung dengan usaha (operasi) pokok perusahaan yang bersangkutan. Pendapatan ini sifatnya normal sesuai dengan tujuan dan usaha perusahaan dan terjadinya berulang-ulang selama perusahaan melangsungkan kegiatannya.

Pendapatan operasional berbeda-beda untuk setiap perusahaan. Pendapatan operasional dapat diperoleh dari dua sumber:

Penjualan kotor yaitu semua hasil penjualan barang atau jasa sebelum dikurangi dengan potongan yang menjadi hak pembeli.
Penjualan bersih yaitu hasil penjualan yang sudah dikurangi dengan biaya potongan yang menjadi hak pembeli.
Sedangkan pendapatan non operasional merupakan pendapatan yang diperoleh perusahaan dalam periode tertentu, tetapi bukan diperoleh dari kegiatan utama atau operasional perusahaan (di luar usaha pokok). Pendapatan non operasional diperoleh dari kegiatan sampingan yang bersifat insidentil. Jenis pendapatan non operasional dapat dibedakan menjadi dua jenis, yakni:

Pendapatan yang diperoleh dari penggunaan aktiva atau sumber ekonomi perusahaan oleh pihak lain. Contohnya pendapatan bunga, sewa, dan royalti.
Pendapatan yang diperoleh dari penjualan aktiva di luar barang dagangan atau hasil produksi. Contohnya penjualan surat-surat berharga dan penjualan aktiva tak berwujud.
Dalam mengatur pendapatan perusahaan, pemisahan atau pembagian sumber pendapatan sesuai dengan klasifikasi pendapatan perlu dilakukan. Hal ini memiliki tujuan agar dapat diperoleh ketepatan dalam mengambil keputusan bagi pihak eksternal perusahaan, terutama para pemakai laporan keuangan.
ILUSTRASI PROSES PENDAPATAN (KOKO/UCEO)
ILUSTRASI PROSES PENDAPATAN (KOKO/UCEO)

PROSES PENDAPATAN

Terdapat dua konsep yang erat hubungannya dengan proses pendapatan, yakni konsep proses pembentukan pendapatan (Earning Process) dan proses realisasi pendapatan (Realization Process).

1. Proses pembentukan pendapatan (Earnings Process)

Proses pembentukan pendapatan (Earning Process) adalah suatu konsep tentang terjadinya pendapatan. Konsep ini berdasarkan pada asumsi bahwa semua kegiatan operasi yang diperlukan dalam rangka mencapai hasil akan selalu memberikan kontribusi terhadap hasil akhir pendapatan berdasarkan perbandingan biaya yang terjadi sebelum perusahaan tersebut melakukan kegiatan produksi. Kegiatan operasi yang dimaksud dalam pengertian di atas adalah kegiatan yang meliputi semua tahap kegiatan produksi, pemasaran, maupun pengumpulan piutang.

2. Proses realisasi pendapatan (Realization Process)

Proses realisasi pendapatan (Realization Process) adalah proses pendapatan yang terhimpun atau terbentuk sesudah produk selesai dikerjakan dan terjual atas kontrak penjualan. Proses realisasi pendapatan (Realization Process) dimulai sejak tahap terakhir kegiatan produksi yaitu pada saat barang atau jasa dikirimkan atau diserahkan kepada pelanggan. Jika kontrak penjualan mendahului produksi barang atau jasa, maka pendapatan belum dapat dikatakan terjadi karena belum terjadi proses penghimpunan pendapatan.

PENILAIAN PENDAPATAN

Untuk menyusun sebuah laporan keuangan, dibutuhkan suatu pedoman dasar penilaian untuk mengetahui berapa rupiah yang dapat diperhitungkan dan dicatat sebagai suatu transaksi serta berapa jumlah rupiah yang harus diletakkan dalam laporan keuangan. Setidaknya terdapat empat dasar dalam penilaian pendapatan, yaitu:

1. Biaya Historis (historical cost)

Aktiva dicatat sebesar pengeluaran kas (atau setara kas) yang dibayar sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aktiva tersebut pada saat perolehan.

2. Biaya Kini (current cost)

Aktiva dinilai dalam wujud kas (atau setara kas) yang seharusnya dibayar bila aktiva yang sama atau setara yang diperoleh sekarang.

3. Nilai realisasi atau penyelesaian (realization/settlement value)

Aktiva dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara kas) yang sama atau setara aktiva yang sekarang dengan menjual aktiva dalam pelepasan normal (orderly disposal).

4. Nilai sekarang (present value)

Aktiva dinyatakan sebesar kas masuk bersih di masa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang dari pos yang diharapkan dapat memberikan hasil dalam pelaksanaan usaha normal.

PENGUKURAN PENDAPATAN

Sejumlah perusahaan didirikan dengan tujuan untuk menghasilkan laba. Laba sendiri merupakan kelebihan pendapatan atas beban pengeluaran yang harus ditanggung oleh perusahaan. Untuk bisa menghasilkan laba, suatu perusahaan harus memiliki pendapatan yang lebih besar dibandingkan dengan beban yang harus dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut.

Pengukuran pendapatan menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) adalah hasil penerimaan dana yang dapat diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima ataupun yang dapat diterima. Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 23, nilai wajar yang dimaksud adalah jumlah dimana suatu aset dipertukarkan atau suatu liabilitas diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar.

Masih menurut PSAK 23, pendapatan dapat timbul melalui peristiwa-peristiwa ekonomi berikut ini:

Penjualan barang
Penjualan jasa
Penggunaan aktiva perusahaan oleh pihak-pihak lain yang menghasilkan bunga, royalti dan dividen
Berikut ini ada berbagai macam dasar pengukuran pendapatan antara lain:

1. Cash Equivalent

Jumlah rupiah kas penghargaan produk yang terjual baru akan menjadi pendapatan yang sepenuhnya setelah produk yang terjual baru akan diproduksi dan penjualan benar-benar terjadi.

2. Nilai setara kas

Jumlah rupiah kas yang diperkirakan atau diterima atau dibayarkan pada masa mendatang dari hasil, penjualan aktiva dalam kegiatan normal perusahaan.

3. Harga dibawah harga pasar

Harga pasar yang berlaku sekarang tetap, nilainya dibawah harga semula.

4. Harga pasar

Harga jual bersih yang diperkirakan dikurangi biaya simpanan, biaya penjualan, dan biaya penyerahan produk.

5. Harga kesepakatan

Harga dimana yang merupakan kesepakatan dengan pelanggan dari setiap jumlah rupiah penjualan yang disepakati dengan pelanggan.

PENGAKUAN PENDAPATAN

Secara umum, terdapat dua kriteria pendapatan yang dapat dijadikan pedoman dalam pengakuan pendapatan:

1. Telah direalisasi (realized)

Pendapat akan diakui apabila telah terjadi transaksi pertukaran antara barang yang dihasilkan perusahaan dengan kas atau klaim untuk menerima kas. Dengan kata lain, pendapatan akan diakui setelah adanya kepastian akan segera terealisasi (realizable), dimana barang hasil pertukaran dapat segera diubah (dikonversi) menjadi kas atau klaim untuk menerima kas. Syarat barang yang mudah dikonversi adalah:

a. Memiliki harga per unit yang pasti dan barang tersebut tidak terpengaruh oleh perubahan bentuk dan ukuran barang, misalnya emas.

b. Mudah dijual tanpa memerlukan biaya yang besar.

2. Pendapatan telah terbentuk

Pendapatan akan diakui apabila kegiatan menghasilkan barang dan jasa telah berjalan dan secara substansial telah selesai.

 Sumber: 

Cara Loyalitas Dan Serba Serbinya Pada Karyawan

“You cannot buy loyalty; you cannot buy the devotion of heart, minds, and souls. You have to earn these things” – Clarence Francis


PENGERTIAN LOYALITAS

Jika terdapat sebuah pertanyaan “Hal apa yang tidak dapat dibeli dengan uang?”, mungkin beberapa orang akan menyebutkan cinta, kebahagiaan, atau waktu sebagai jawabannya. Ketiga hal tersebut memang tidak dapat dibeli dengan uang, namun ada satu hal lagi yang terkadang luput dari perhatian orang banyak, yakni loyalitas. 

Loyalitas adalah salah satu hal yang tidak dapat dibeli dengan uang. Loyalitas hanya bisa didapatkan, namun tidak bisa dibeli. Mendapatkan loyalitas dari seseorang bukanlah sesuatu pekerjaan yang mudah untuk dilakukan. Berbanding terbalik dengan kesulitan mendapatkannya, menghilangkan loyalitas seseorang justru menjadi hal yang sangat mudah untuk dilakukan. 

Sebelum kita berbicara lebih jauh mengenai loyalitas, terlebih dahulu kita harus tahu apa pengertian loyalitas. Loyalitas memiliki kata dasar loyal yang berasal dari bahasa Prancis kuno loial. Menurut Oxford Dictionary, pengertian loyalitas adalah the quality of being loyal dimana loyal didefinisikan sebagai giving or showing firm and constant support or allegiance to a person or institution. Jika diartikan secara bebas, pengertian loyalitas menurut Oxford Dictionary adalah mutu dari sikap setia (loyal), sedangkan loyal didefinisikan sebagai tindakan memberi atau menunjukkan dukungan dan kepatuhan yang teguh dan konstan kepada seseorang atau institusi. Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia menerangkan pengertian loyalitas sebagai kepatuhan atau kesetiaan. 

Loyalitas merupakan suatu hal yang bersifat emosional. Untuk bisa mendapatkan sikap loyal seseorang, terdapat banyak faktor yang akan memengaruhinya. Sikap loyal dapat diterapkan oleh setiap orang dalam berbagai hal. Dari sekian banyak studi mengenai pengertian loyalitas, hanya satu kategori pengertian loyalitas yang akan kita bahas dalam artikel ini. Kategori pengertian loyalitas tersebut adalah pengertian loyalitas karyawan. 

PENGERTIAN LOYALITAS KARYAWAN

Setiap perusahaan pasti menginginkan adanya sikap loyal pada karyawan mereka. Pengertian loyalitas karyawan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pengertian loyalitas secara umum. Dalam pengertian loyalitas karyawan, kesetiaan menjadi poin utama yang dapat diberikan karyawan kepada perusahaan tempatnya bekerja. Sayangnya, pengertian loyalitas karyawan kadang masih disalahartikan oleh beberapa orang, baik oleh pihak karyawan, manajemen, maupun oleh pimpinan perusahaan. 

Orang-orang seringkali menyangkut pautkan pengertian loyalitas dengan seberapa lama dan banyaknya waktu serta tenaga yang dicurahkan oleh seorang karyawan untuk bekerja tanpa mengharapkan imbalan apapun dari perusahaan. Padahal kenyataannya, banyak karyawan yang bertahan di suatu perusahaan hanya karena gaji atau bonus yang diterimanya. Pengertian loyalitas identik dengan kesetiaan yang semestinya dilakukan dalam berbagai kondisi tanpa syarat dan tanpa mengharapkan adanya balasan. Loyalitas merupakan kondisi psikologis yang mengikat karyawan dan perusahaannya, karenanya pengertian loyalitas karyawan bukan hanya sekadar kesetiaan fisik yang tercermin dari seberapa lama seseorang berada di dalam organisasi, namun dapat diliat dari seberapa besar pikiran, perhatian, gagasan, serta dedikasinya tercurah sepenuhnya kepada perusahaan tersebut. 

Saat ini pengertian loyalitas karyawan bukan lagi sekadar merujuk pada kemampuan karyawan menjalankan tugas-tugas serta kewajibannya yang sesuai dengan job description, melainkan berbuat seoptimal mungkin untuk menghasilkan yang terbaik bagi perusahaan tersebut. 
ILUSTRASI ASPEK LOYALITAS KARYAWAN (KOKO/ UCEO)
ILUSTRASI ASPEK LOYALITAS KARYAWAN (KOKO/ UCEO)

ASPEK-ASPEK LOYALITAS KARYAWAN

Untuk mengetahui apakah seorang karyawan loyal terhadap perusahaan. Terdapat beberapa aspek yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk mengukur loyalitas karyawan tersebut. Aspek-aspek loyalitas kerja yang terdapat pada seorang karyawan antara lain:

1. Taat pada peraturan.

Seorang karyawan yang loyal akan selalu taat pada peraturan. Sesuai dengan pengertian loyalitas , ketaatan ini timbul dari kesadaran karyawan jika peraturan yang dibuat oleh perusahaan semata-mata disusun untuk memperlancar jalannya pelaksaan kerja perusahaan. Kesadaran ini membuat karyawan akan bersikap taat tanpa merasa terpaksa atau takut terhadap sanksi yang akan diterimanya apabila melanggar peraturan tersebut.

2. Tanggung jawab pada perusahaan/organisasi.

Ketika seorang karyawan memiliki sikap sesuai dengan pengertian loyalitas, maka secara otomatis ia akan merasa memiliki tanggung jawab yang besar terhadap perusahaannya. Karyawan akan berhati-hati dalam mengerjakan tugas-tugasnya, namun sekaligus berani untuk mengembangkan berbagai inovasi demi kepentingan perusahaan.

3. Kemauan untuk bekerja sama.

Karyawan yang memiliki sikap sesuai dengan pengertian loyalitas, tidak segan untuk bekerja sama dengan karyawan lain. Bekerja sama dengan orang lain dalam suatu kelompok memungkinkan seorang karyawan mampu mewujudkan impian perusahaan untuk dapat mencapai tujuan yang tidak mungkin dicapai oleh seorang karyawan secara invidual.

4. Rasa memiliki

Adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap perusahaan akan membuat karyawan memiliki sikap untuk ikut menjaga dan bertanggung jawab terhadap perusahaan sehingga pada akhirnya akan menimbulkan sikap sesuai dengan pengertian loyalitas demi tercapainya tujuan perusahaan.

5. Hubungan antar pribadi

Karyawan yang memiliki loyalitas kerja tinggi akan mempunyai hubungan antar pribadi yang baik terhadap karyawan lain dan juga terhadap atasannya. Sesuai dengan pengertian loyalitas, hubungan antar pribadi ini meliputi hubungan sosial dalam pergaulan sehari-hari, baik yang menyangkut hubungan kerja maupun kehidupan pribadi.

6. Kesukaan terhadap pekerjaan

Sebagai manusia, karyawan pasti akan mengalami masa-masa jenuh terhadap pekerjaan yang dilakukannya setiap hari. Seorang karyawan yang memiliki sikap sesuai dengan pengertian loyalitas akan mampu menghadapi permasalahan ini dengan bijaksana. Hal ini hanya dapat dilakukan apabila seorang karyawan mencintai pekerjaannya.

PENYEBAB TURUNNYA LOYALITAS KARYAWAN

Seperti yang telah dijabarkan pada awal tulisan, pengertian loyalitas adalah suatu hal yang sulit untuk diciptakan namun mudah untuk dihilangkan. Seorang karyawan yang baru masuk dalam sebuah perusahaan memerlukan waktu untuk dapat menjadi loyal sesuai dengan pengertian loyalitas. Akan tetapi, sikap loyal yang sesuai dengan pengertian loyalitas tersebut dapat tiba-tiba hilang apabila seorang karyawan merasa “dikecewakan” oleh perusahaan. 

Setidaknya terdapat tiga faktor yang dapat menjadi penyebab turunnya loyalitas karyawan sesuai dengan pengertian loyalitas, yakni:
a. Faktor rasional

Faktor rasional turunnya loyalitas karyawan mengacu pada hal-hal yang dapat dijelaskan secara logis. Faktor-faktor rasional yang menjadi penyebab turunnya loyalitas karyawan sesuai dengan pengertian loyalitas antara lain gaji, bonus, jenjang karir, dan fasilitas-fasilitas yang diberikan perusahaan kepada karyawan.

b. Faktor emosional

Faktor emosional turunnya loyalitas karyawan mengacu pada hal-hal yang menyangkut perasaan atau ekspresi diri. Faktor-faktor emosional yang menjadi penyebab turunnya loyalitas karyawan sesuai dengan pengertian loyalitas antara lain pekerjaan yang dinilai kurang menantang, lingkungan kerja yang tidak kondusif, perasaan was-was terhadap keberlangsungan hidup perusahaan, ketidakcocokan karyawan denganpemimipin, pekerjaan yang dinilai tidak prestige, serta kurangnya penghargaan perusahaan terhadap prestasi kerja karyawan.

c. Faktor kepribadian

Faktor kepribadian sebagai penyebab turunnya loyalitas karyawan mengacu pada hal-hal yang sifat pribadi karyawan. Faktor-faktor kepribadian  yang menjadi penyebab turunnya loyalitas karyawan sesuai dengan pengertian loyalitas antara lain adalah sifat mudah bosan dan ketidakcocokan karyawan dengan budaya kerja di suatu perusahaan. 

INDIKASI-INDIKASI TURUNNYA LOYALITAS KARYAWAN

a. Rendahnya produktivitas kerja

Indikasi pertama turunnya loyalitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan adalah adanya penurunan produktivitas kerja karyawan, Penurunan ini dapat diukur dengan membandingkan produktivitas kerja saat ini dengan produktivitas pada waktu sebelumnya. Beberapa hal penyebab turunnya produktivitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan antara lain karena adanya kemalasan atau sikap karyawan yang cenderung menunda-nunda pekerjaan

b. Tingkat absensi yang naik

Ketika loyalitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan menurun, biasanya karyawan akan malas untuk datang ke tempat kerja. Hal ini dapat dideteksi dengan naiknya jumlah absen karyawan dibandingkan dengan jumlah absen di bulan-bulan sebelumnya.

c. Tingkat perpindahan buruh yang tinggi

Tingkat perpindahan atau keluar masuknya karyawan yang tinggi mengindikasikan adanya sesuatu yang salah pada suatu perusahaan. Banyaknya karyawan yang merasa tidak cocok bekerja di perusahaan tersebut menandakan jika sistem manajemen perusahaan tidak sesuai dengan sistem yang diharapkan oleh karyawannya. Tingkat perpindahan karyawan yang tinggi akan merugikan pihak perusahaan karena dapat menurunkan produktivitas kerja dan dapat memengaruhi secara langsung kelangsungan hidup perusahaan tersebut.

d. Muncul kegelisahan

Loyalitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan yang menurun dapat menimbulkan munculnya kegelisahan di kalangan para karyawan. Seorang pemimpin semestinya peka terhadap isu dan kegelisahan-kegelisahan yang muncul di kalangan para karyawan. Dengan mengetahui keluh kesah karyawan, seorang pemimpin dapat mencegah turunnya loyalitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan di sebuah perusahaan.

e. Tuntutan yang sering terjadi

Tuntutan yang sering terjadi dari kalangan karyawan sebenarnya adalah bentuk perwujudan dari ketidakpuasan karyawan terhadap perusahaan. Pada tahap tertentu, ketidakpuasan tersebut akan memunculkan keberanian karyawan untuk mengajukan tuntutan kepada perusahaan tempatnya bekerja.

f. Pemogokan kerja

Wujud paling ekstrem dari penurunan loyalitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan kepada perusahaan adalah terjadinya pemogokan kerja. Apabila karyawan merasa suaranya tidak lagi didengar, maka ketidakpuasan mereka akan memuncak dan akhirnya menimbulkan munculnya gerakan mogok kerja.

CARA MENGATASI PENURUNAN LOYALITAS KARYAWAN

Penurunan loyalitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan bukan berarti akhir bagi hubungan karyawan dan perusahaan tempatnya bekerja. Sebuah perusahaan dapat mengatasi penurunan loyalitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan dengan mewujudkan harapan-harapan serta memenuhi kebutuhan-kebutuhan para karyawan yang sempat terabaikan sebelumnya. Beberapa cara mengatasi penurunan loyalitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan antara lain:

Memberikan gaji yang cukup
Memberikan kebutuhan rohani
Sesekali perlu menciptakan suasana santai
Menempatkan karyawan pada posisi yang tepat
Memberikan kesempatan pada karyawan untuk maju
Memperhatikan rasa aman untuk menghadapi masa depan
Mengusahakan karyawan untuk mempunyai loyalitas. Sesekali mengajak karyawan berunding
Memberikan fasilitas yang menyenangkan

Sumber: ciputrauceo

Macam-Macam Sumber Daya Alam Yang Dapat Diperbaharui Dan Dimampaatkan Dalam Bisnis

Saat duduk di bangku Sekolah Dasar, kita pasti pernah mendapatkan pelajaran mengenai Sumber Daya Alam (SDA). Mungkin dulu kita mengira jika pelajaran mengenai sumber daya alam hanya kita perlukan sebagai ilmu pengetahuan umum saja. Siapa sangka, pengetahuan mengenai sumber daya alam ternyata bisa menjadi ilmu yang berguna untuk bisnis kita saat ini.

Secara umum, sumber daya alam dapat dipahami sebagai segala sesuatu dari alam yang bisa digunakan manusia untuk membantu memenuhi kebutuhannya. Sumber daya alam dibagi menjadi dua kategori yakni sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable resources) dan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (non renewable resources). 

Sumber daya alam yang dapat diperbaharui merupakan sumber daya alam yang jika persediaannya telah berkurang atau habis, akan dapat diproduksi kembali dalam jangka waktu relatif singkat. Produksi tersebut dapat dilakukan secara alami maupun dengan bantuan (rekayasa) manusia. 

Sementara itu sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui merupakan sumber daya alam yang jika dipakai terus menerus akan habis dan tidak dapat diproduksi kembali oleh manusia. Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui sebenarnya dapat diproduksi kembali secara alami, namun proses produksi ini memakan waktu yang sangat panjang, yakni hingga ratusan bahkan ribuan tahun. 

Dalam artikel kali ini, kita hanya akan membahas mengenai sumber daya alam yang dapat diperbaharui serta bagaimana sumber daya alam yang dapat diperbaharui dapat dimanfaatkan dalam bisnis. 

JENIS SUMBER DAYA ALAM YANG DAPAT DIPERBAHARUI

Berdasarkan asalnya, sumber daya alam yang dapat diperbaharui dapat dibedakan menjadi dua, yakni sumber daya alam hayati dan sumber daya alam non hayati

1. Sumber daya alam hayati

Sumber daya alam hayati merupakan sumber daya alam yang berasal dari makhluk hidup. Ciri-ciri makhluk hidup antara lain adalah memiliki kemampuan untuk tumbuh, bergerak, berkembang biak, bernafas, serta membutuhkan makanan untuk bertahan hidup. Sumber daya alam yang termasuk dalam sumber daya alam hayati adalah hewan dan tumbuhan.

a. Hewan

Hewan adalah jenis sumber daya alam hayati yang pertama. Hewan sebagai sumber daya alam yang dapat diperbaharui dapat digolongkan menjadi dua, yaitu hewan liar dan hewan peliharaan. Hewan liar merupakan hewan yang hidup di alam bebas dan dapat bertahan hidup tanpa bantuan manusia secara langsung. Hewan liar hanya bergantung pada makanan yang disediakan oleh alam.

Sementara itu, hewan peliharaan adalah jenis sumber daya alam yang dapat diperbaharui yang dipelihara manusia. Untuk bisa bertahan hidup, hewan peliharaan mengandalkan makanan yang disediakan oleh manusia. Manusia biasanya memelihara binatang peliharaan karena hobi atau sekadar untuk menjadi teman bermain. Binatang yang umumnya dipelihara manusia adalah anjing, kucing, ikan, dan burung. Meskipun begitu, tidak jarang pula manusia memanfaatkan binatang untuk dipelihara sebagai hewan ternak.

Hewan ternak merupakan hewan peliharaan yang dikembangbiakkan untuk dimanfaatkan atau diperjualbelikan hasilnya. Hewan ternak dapat dikategorikan dalam tiga jenis, yaitu hewan besar, hewan sedang, dan hewan unggas.

Contoh binatang yang termasuk dalam kategori hewan besar antara lain sapi, kerbau, dan kuda. Sedangkan binatang yang termasuk dalam kategori hewan sedang antara lain kambing, domba, dan kelinci. Sementara itu, hewan ternak yang termasuk dalam kategori unggas adalah ayam, bebek, serta burung puyuh.

b.      Tumbuhan

Sumber daya alam hayati yang kedua adalah tumbuhan. Tumbuhan merupakan jenis sumber daya alam yang dapat diperbaharui dengan penyebaran sangat luas. Hampir di seluruh wilayah di dunia ini memiliki tumbuhan, bahkan di dasar laut sekali pun. Tumbuhan sebagai sumber daya alam yang dapat diperbaharui dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yakni hasil hutan, pertanian, dan perkebunan.

Hutan memiliki banyak jenis. Dilihat dari arealnya hutan dapat dibagi menjadi 4 jenis. Jenis pertama adalah hutan lindung, yakni hutan yang berfungsi untuk melindungi alam dari berbagai bencana alam seperti erosi, banjir, dan tanah longsor. Kedua adalah hutan produksi, hutan ini berfungsi untuk menghasilkan berbagai bahan produksi untuk industri dan kebutuhan masyarakat sehari-hari seperti kayu untuk mebel, bahan bangunan, dan kerajinan tangan. Jenis hutan yang ketiga adalah hutan wisata. Sesuai dengan namanya, hutan jenis ini dimanfaatkan sebagai media wisata untuk wisatawan domestik dan mancanegara. Terakhir adalah hutan suaka alam, yakni hutan yang berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan melindungi flora dan fauna yang terdapat di daerah tersebut.

Kategori sumber daya alam hayati tumbuhan yang kedua adalah pertanian. Hingga saat ini pertanian sebagai sumber daya alam yang dapat diperbaharui masih menjadi sektor andalan masyarakat indonesia. Sektor pertanian menghasilkan berbagai macam tumbuhan yang dapat dikonsumsi maupun sebagai bahan baku bagi industri. Jika diolah dengan benar, tanah yang merupakan media dalam sektor pertanian dapat memberikan hasil yang tidak akan pernah habis sepanjang tahun, seperti misalnya padi, jagung, dan cabai.

Kategori sumber daya alam hayati tumbuhan yang terakhir adalah perkebunan. Berbeda dengan hasil pertanian yang ditanam di sawah, tumbuhan hasil perkebunan umumnya ditanam di sebuah lahan terbuka tanpa perlu diairi seperti di sawah. Beberapa jenis tumbuhan hasil perkebunan antara lain karet, cokelat, teh, dan kelapa sawit. 

2.      Sumber daya alam non-hayati

Sumber daya alam non-hayati merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui yang berasal dari bukan makhluk hidup. Beberapa sumber daya alam non-hayati antara lain berasal dari air, udara, dan barang tambang logam.

a. Air

Air merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui yang selalu digunakan manusia dalam kegiatan sehari-hari. Sumber daya air bisa berasal dari berbagai tempat, mulai dari sungai, laut, dan juga danau. Sumber daya air dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia diantaranya adalah untuk sarana transportasi, rekreasi dan pariwisata, pembangkit listrik tenaga air, serta untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti minum, mandi, dan mencuci.

b. Tanah

Tanah merupakan lapisan kulit bumi bagian atas yang terbentuk dari pelapukan batuan dan bahan organik yang hancur oleh proses alamiah. Terdapat banyak jenis tanah yang ada di dunia ini. Jenis-jenis tanah tersebut biasanya tersebar sesuai dengan iklim dari suatu wilayah. Tanah subur sebagai sumber daya alam yang dapat diperbaharui sangat bermanfaat untuk media tanam dalam bidang pertanian dan perkebunan. Tanah sebagai sumber daya alam yang dapat diperbaharui juga menjadi tempat penyimpanan mineral-mineral dan benda-benda logam yang dihasilkan oleh alam. Mineral dan benda-benda logam ini dapat dimanfaatkan manusia sebagai salah satu bahan dalam industri.

c. Udara

Udara merupakan elemen yang sangat penting untuk kehidupan makhluk hidup di muka bumi ini. Manusia dan makhluk hidup lain menggunakan oksigen untuk bisa bernafas. Oksigen merupakan salah satu gas yang tersimpan di dalam udara. Udara sebagai sumber daya alam yang dapat diperbaharui masih menyimpan berbagai gas lain yang dapat dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Gas-gas yang terkandung di dalam udara antara lain adalah nitrogen, oksigen, argon, karbon dioksida, neon, helium, ozon, hidrogen, kripton, dan kumpulan gas lain.

Udara mudah bergerak. Udara yang bisa bergerak dan berpindah tempat disebut angin. Sementara itu, udara yang menyelimuti bumi disebut oksigen. Selain untuk bernafas, udara dapat dimanfaatkan manusia untuk berolah raga seperti terjun payung dan gantole. Bahkan angin dapat pula dimanfaatkan untuk menjadi tenaga pembangkit listrik. 
ILUSTRASI PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM YANG DAPAT DIPERBAHARUI DALAM BISNIS (KOKO/ UCEO)
ILUSTRASI PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM YANG DAPAT DIPERBAHARUI DALAM BISNIS (KOKO/ UCEO)

PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM YANG DAPAT DIPERBAHARUI DALAM BISNIS 

Bisnis yang bergerak di bidang penyediaan barang pasti memerlukan bahan baku dalam proses produksinya. Bahan baku tersebut memiliki jenis yang sangat beragam. Tidak jarang elemen yang sering dijadikan sebagai bahan baku dalam proses produksi diambil dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Seperti yang telah dijelaskan di atas, sumber daya alam yang dapat diperbaharui memiliki banyak sekali jenis. Artinya, sumber daya alam yang dapat diperbaharui memiliki potensi yang sangat besar untuk digali sebagai bahan baku dalam proses produksi industri. 

Sumber daya alam yang dapat diperbaharui terdiri dari sumber daya alam hayati dan non hayati, keduanya sama-sama dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku, tergantung dari jenis industri yang digeluti oleh suatu perusahaan. Berbanding lurus, pada satu jenis sumber daya alam pun ada banyak elemen yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai jenis tipe industri. Binatang sapi misalnya, sebagai salah satu sumber daya alam yang dapat diperbaharui, sapi tidak melulu hanya dapat dimanfaatkan dagingnya. Produk-produk hewani dari sapi dapat dimanfaatkan pula sebagai bahan baku industri, misal adalah susunya. Susu sapi tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam produksi minuman susu dalam kemasan, namun dapat pula dimanfaatkan sebagi bahan baku dalam proses produksi sabun, shampoo, dan produk-produk kecantikan lainnya. 

Pemanfaatan sumber daya alam yang dapat diperbaharui dalam bisnis dapat pula dilakukan pada sumber daya alam non hayati. Sumber daya paling sederhana yang berhasil dimanfaatkan sebagai bahan baku proses produksi adalah air. Di Indonesia, kita mengenal AQUA, Ades, Club, Prim-a, dan Vit sebagai produk air minum dalam kemasan yang dijual di berbagai tempat. AQUA sebagai pelopor industri air minum dalam kemasan, awalnya sempat mendapatkan berbagai komentar sinis karena menjual produk yang harga per botolnya hampir sama dengan harga 1 liter BBM Premium pada waktu itu. Meskipun begitu, Tirto Utomo sebagai founder AQUA tetap bersikeras melanjutkan bisnis ini karena melihat prospek air minum dalam kemasan di masa depan. Selain air, saat ini seorang pengusaha di China sedang mengembangkan sebuah bisnis yang menjual udara segar dalam kemasan. Meskipun terdengar aneh, namun nyatanya produk ini cukup diminati oleh masyarakat China yang hidup dalam lingkungan penuh dengan polusi udara.

 Air dan udara merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Meskipun begitu, keberadaan air dan udara bersih ternyata bisa menjadi cukup langka. Kejadian ini tidak hanya terjadi pada kasus air dan udara bersih. Sumber daya alam yang dapat diperbaharui lainnya pun dapat menjadi langka apabila tidak dipergunakan secara bijak. Usaha pemanfaatan sumber daya alam dengan memperhatikan dampak pada kelestarian lingkungan dan tetap menjaga efisiensi proses produksi untuk menghasilkan produk yang optimal disebut dengan ekoefisiensi.

EKOEFISIENSI SUMBER DAYA ALAM YANG DAPAT DIPERBAHARUI

Ekoefisiensi sumber daya alam yang dapat diperbaharui sangat penting untuk dilakukan, baik oleh orang awam maupun para pengusaha yang secara langsung memanfaatkan sumber daya alam yang dapat diperbaharui tersebut sebagai bahan baku produk. Efisiensi sumber daya alam yang dapat diperbaharui dapat dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan jenis sumber daya alam yang hendak dijaga kelestariannya. 

a. Ekoefisiensi dalam memanfaatkan hutan

Penebangan hutan yang dilakukan secara ilegal dan berlebihan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Pemanfaatan hutan harus dilakukan secara bijak, yakni dengan menerapkan prinsip ekoefisiensi. Penebangan hutan boleh dilakukan, namun harus mempertimbangkan kelestarian hutan. Pemanfaatan hutan juga harus berprinsip pada reboisasi dan efisiensi. Hal ini sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem hutan yang akan berdampak besar bagi kelangsungan hidup makhluk hidup lainnya. 

b. Ekoefisiensi dalam mengolah limbah

Pengolahan limbah harus dilakukan secara benar dan efisien. Salah satu langkah pengolahan limbah yang bijak adalah dengan menerapkan prinsip daur ulang. Untuk limbah yang bersifat “racun” seperti limbah pabrik, pihak perusahaan haruslah melakukan netralisasi sebelum limbah tersebut dibuang. Selain itu, limbah juga harus dibuang jauh dari pemukiman penduduk, sumber air minum, serta wilayah-wilayah yang rentan terkontaminasi limbah. 

Selain pabrik, salah satu sumber penghasil limbah terbesar adalah rumah tangga. Untuk limbah rumah tangga, pengolahan dapat dilakukan sejak limbah masih berada di rumah. Pengolahan tersebut dilakukan dengan cara memisahkan sampah organik dengan sampah non-organik. Nantinya, sampah organik dapat diolah menjadi pupuk organik, sementara itu sampah non-organik dapat didaur ulang untuk diubah menjadi barang lain yang masih bisa dimnafaatkan oleh masyarakat. 

c. Ekoefisiensi penggunaan air bersih

Air bersih merupakan kebutuhan dasar manusia. Sayangnya, tingginya tingkat kebutuhan akan air bersih tidak setara dengan ketersediaan air bersih. Saat ini, ketersediaan air bersih di dalam tanah berkurang karena makin maraknya perusakan hutan dan pencemaran air tanah di berbagai wilayah. Jika kondisi ini terjadi secara terus-menerus, sangat mungkin terjadi krisis air bersih di dunia.  

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk menerapkan ekoefisiensi air bersih adalah dengan cara berikut ini:

Mempertahankan kelestarian hutan
Melakukan penghijauan di lingkungan perkarangan rumah
Menjaga saluran air dari kebocoran untuk menghindari pemborosan air bersih
Membuat penampungan air kotor
Membuat penampungan air hujan
Menghemat penggunaan air bersih

Sumber: ciputrauceo

Cara Intensifikasi Untuk Meningkatkan Hasil Produksi Bisnis

Sebagai sebuah karir, saat ini entrepreneur tidak lagi dipandang dengan sebelah mata. Ada banyak orang yang mulai sadar jika di tengah lapangan pekerjaan yang semakin sedikit, menjadi entrepreneur merupakan solusi yang layak dicoba untuk mengurangi jumlah pengangguran. Meningkatnya jumlah entrepreneur berdampak pula pada meningkatnya tingkat persaingan bisnis. Untuk menjaga agar suatu bisnis dapat terus berjalan, seorang pengusaha harus dapat terus berinovasi.

Inovasi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Dalam artikel berjudul “Diversifikasi Menurut para Pakar”, kami pernah menjelaskan salah satu langkah yang dapat dilakukan oleh pengusaha untuk menjaga dan mengembangkan bisnisnya, yakni melalui langkah diversifikasi. Secara singkat, diversifikasi dapat dijelaskan sebagai langkah perluasan atau penambahan barang atau jasa untuk meningkatkan profitabilitas perusahaan.

Selain diversifikasi, langkah yang dapat diambil oleh pengusaha untuk mengembangkan bisnisnya adalah dengan melakukan ekstensifikasi dan intensifikasi. Ekstensifikasi secara singkat dapat diartikan sebagai upaya perluasan usaha yang dilakukan dengan menambah atau memperluas faktor-faktor produksi yang ada. Contoh dari langkah ekstensifikasi adalah membuka cabang baru toko yang sudah ada, mendirikan pabrik sendiri untuk produksi barang usaha, serta penambahan jumlah armada angkutan.

Langkah ketiga yang dapat ditempuh oleh pengusaha untuk mengembangkan bisnisnya adalah dengan menempuh langkah intensifikasi. Secara umum, intensifikasi dapat diartikan sebagai usaha meningkatkan atau memaksimalkan hasil produksi dengan meningkatkan kemampuan produktifitas faktor-faktor produksi. Dalam artikel kali ini, kita akan lebih memperdalam pemahaman mengenai intensifikasi, mulai dari definisi, jenis, hingga contoh intensifikasi yang dapat dilakukan oleh pengusaha terhadap bisnisnya.

Selama ini kita mendengar terminologi intensifikasi lebih sering digunakan dalam pembahasan mengenai pajak. Akan tetapi, dalam artikel kali ini kita akan membahas intensifikasi dalam segi bisnis. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, intensifikasi merupakan sebuah usaha yang dilakukan untuk meningkatkan atau memaksimalkan hasil produksi dengan meningkatkan kemampuan produktifitas faktor-faktor produksi. Beberapa langkah intensifikasi yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan hasil produksi adalah dengan meningkatkan kualitas tenaga kerja, memperbaiki cara berproduksi, hingga meningkatkan jam operasi mesin.
ILUSTRASI INTENSIFIKASI BISNIS (KOKO/ UCEO)
ILUSTRASI INTENSIFIKASI BISNIS (KOKO/ UCEO)

INTENSIFIKASI DALAM BISNIS: MENINGKATKAN KUALITAS TENAGA KERJA

Langkah intensifikasi pertama yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan hasil produksi adalah dengan meningkatkan kualitas tenaga kerja. Kualitas tenaga kerja yang baik tentunya akan memberikan hasil pekerjaan yang baik pula. Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh perusahaan untuk dapat menerapkan intensifikasi dalam meningkatkan kualitas tenaga kerja, antara lain:

1. Intensifikasi dengan meningkatkan pendidikan tenaga kerja

Di dunia ini ada banyak orang yang bisa sukses meskipun tidak menempuh tingkat pendidikan yang tinggi. Orang-orang seperti Albert Einstein, Bill Gates, hingga Susi Pudjiastuti adalah tiga dari banyak contoh orang yang bisa sukses tanpa gelar. Meskipun bukan yang utama, namun pendidikan tetap menjadi faktor yang penting dalam langkah intensifikasi dengan meningkatkan kualitas tenaga kerja.

Pendidikan dikategorikan menjadi dua, yakni pendidikan formal dan pendidikan informal. Pendidikan formal dapat ditempuh melalui sekolah dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Bagi yang merasa pendidikan sekolah belum cukup, dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, yakni perguruan tinggi. Pendidikan perguruan tinggi pun memiliki tahap, mulai dari D3, S1, S2, hingga yang tertinggi S3.

Kategori pendidikan yang kedua adalah pendidikan informal. Pendidikan informal bisa didapatkan melalui pelatihan-pelatihan, baik berupa seminar, workshop, maupun training. Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja, perusahaan dapat melakukan intensifikasi dengan mengikutsertakan atau bahkan mengadakan sendiri pelatihan bagi karyawannya. Intensifikasi dalam bentuk pelatihan ini dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan hard skill maupun soft skill karyawan.

2. Intensifikasi dengan meningkatkan kualitas mental dan spiritual tenaga kerja

Untuk memaksimalkan hasil produksi, perusahaan juga harus melakukan intensifikasi dalam hal kualitas mental dan spiritual tenaga kerja. Intensifikasi ini dapat dilakukan dengan cara memberikan fasilitas keagamaan sesuai dengan agama yang dianut oleh tenaga kerja. Intensifikasi melalui fasilitas keagamaan dapat berupa bangunan untuk beribadah maupun kegiatan-kegiatan rohani yang berguna untuk membangun spiritualitas tenaga kerja.

Perusahaan juga dapat meningkatkan intensifikasi kualitas mental karyawan dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang membangun sikap profesional mereka. Misalnya melalui outbond, camping, atau musyawarah kerja yang bersifat sharing pendapat dan harapan karyawan. Melalui kegiatan-kegiatan intensifikasi ini, perusahaan dapat sekaligus menanamkan nilai-nilai luhur perusahaan sehingga tenaga kerja dapat memiliki integritas yang baik sebagai seorang karyawan.

3. Intensifikasi dengan perbaikan gizi dan kesehatan tenaga kerja

Selama ini ada banyak sekali perusahaan yang menuntut tenaga kerjanya untuk bekerja keras demi mendapatkan hasil produksi yang maksimal. Sayangnya, hanya sedikit dari perusahaan-perusahaan tersebut yang memberikan fasilitas gizi dan kesehatan bagi tenaga kerjanya. Akibatnya, kemampuan kerja karyawan akan semakin turun seiring dengan menurunnya kesehatan dan stamina mereka.

Penting bagi perusahaan untuk memerhatikan asupan gizi dan kesehatan karyawannya sebagai langkah intensifikasi perusahaan. Bagi perusahaan yang menyediakan fasilitas makan untuk tenaga kerja, sebaiknya tidak asal memilih makanan yang murah dan enak saja, namun juga harus memerhatikan segi gizi dari menu makanan tersebut. Sementara itu, bagi perusahaan yang tidak menyediakan fasilitas makan untuk tenaga kerja, sekiranya dapat menyediakan kantin yang bersih dan sehat di kantor, sehingga karyawan memiliki kemudahan untuk mengakses makanan sehat dalam kegiatan mereka sehari-hari.

Perusahaan juga wajib memberikan waktu istirahat yang cukup untuk karyawannya. Waktu istirahat yang cukup melingkupi jam kerja yang ideal (umumnya banyak perusahaan yang menerapkan 8 jam kerja bagi karyawannya) dengan waktu istirahat lebih kurang satu jam pada jam makan siang. Perusahaan juga sebaiknya tidak melarang karyawan untuk absen ketika sedang sakit. Karyawan yang tetap dipaksa untuk bekerja ketika sedang sakit justru akan merugikan karena kinerjanya menjadi tidak optimal. Selain itu, karyawan yang sedang sakit juga berpotensi menularkan penyakitnya pada tenaga kerja yang lain.

Perusahaan juga sebaiknya membatasi jam lembur karyawan, baik jam lembur yang dilakukan sepulang jam kantor maupun jam lembur yang dilakukan pada saat hari libur. Hal ini berguna untuk menghindari kondisi fisik karyawan yang kelelahan bekerja sehingga berakibat pada menurunnya kualitas kesehatan karyawan tersebut.

4. Intensifikasi dengan meningkatkan “sense of belonging” tenaga kerja

Langkah intensifikasi yang terakhir namun paling penting adalah dengan menanamkan sense of belonging tenaga kerja terhadap perusahaan. Intensifikasi sense of belonging atau rasa memiliki penting untuk ditanamkan dalam diri setiap tenaga kerja. Dengan adanya rasa memiliki, maka tenaga kerja akan dengan senang hati meluangkan tenaga, waktu dan pikirannya untuk perusahaan tersebut. Dengan rasa ini pula tenaga kerja akan tetap setia pada perusahaan, terlepas dari gaji atau bonus-bonus lain yang ia terima.

Selain dengan cara-cara di atas, perusahaan juga dapat melakukan intensifikasi melalui peningkatan kualitas tenaga kerja dengan memperbaiki manajemen sumber daya manusia di perusahaan tersebut. Untuk mengetahui manajemen sumber daya manusia lebih jauh, Anda bisa membaca artikel "Pengertian Sumber Daya Manusia dan Manajemen Sumber Daya Manusia".

INTENSIFIKASI DALAM BISNIS: MEMPERBAIKI CARA BERPRODUKSI

Langkah intensifikasi dalam bisnis yang kedua adalah dengan cara memperbaiki cara berproduksi. Untuk bisa memaksimalkan hasil produksi, perusahaan harus melakukan evaluasi terhadap cara berproduksi sebelumnya. Apabila perusahaan menemukan kekurangan dalam cara sebelumnya, maka perusahaan harus mau memperbaiki cara berproduksi dengan  sesuatu hal yang dianggap lebih baik.

Cara berproduksi yang baik berbeda-beda di tiap perusahaan. Cara produksi yang baik menurut perusahaan A belum tentu dapat berhasil jika diterapkan di perusahaan B. Karenanya, proses trial and error merupakan langkah yang bisa diambil sebelum perusahaan menemukan cara berproduksi yang tepat. Satu hal yang perlu diperhatikan, cara berproduksi harus disesuaikan dengan perkembangan pasar. Misalnya, ketika permintaan pasar mulai tinggi, perusahaan harus bisa menyediakan barang dengan mengatur cara produksi yang tepat supaya kebutuhan masyarakat terpenuhi. Jika perusahaan tidak segera berinovasi mencari cara berproduksi yang baru, maka ditakutkan pasar akan memilih untuk menggunakan produk dari kompetitor.

INTENSIFIKASI DALAM BISNIS: MENINGKATKAN JAM OPERASI MESIN

Langkah intensifikasi untuk memaksimalkan hasil produksi selanjutnya adalah dengan meningkatkan jam operasi mesin. Dengan menambah jam operasi mesin, otomatis hasil produksi akan menjadi lebih maksimal. Tindakan ini bukannya tanpa resiko. Mesin adalah barang buatan manusia yang tentu saja dapat rusak dan mengalami penurunan kualitas sewaktu-waktu. Karena hal itu, maka tindakan intensifikasi dengan meningkatkan jam operasi mesin juga harus disertai dengan peningkatan perawatan mesin. Mesin yang jam operasinya dimaksimalkan hingga 2 kali lipat, berarti harus mendapatkan servis 2 kali lipat lebih sering. Begitu seterusnya jika mesin dioperasikan hingga 3, 4 atau bahkan 5 kali lebih lama, maka jadwal perawatannya pun harus lebih sering dilakukan.

Jika perusahaan bersikeras melakukan intensifikasi dengan menambah jam operasi mesin tanpa mau menambah jadwal pemeliharaan mesin, maka resiko kerusakan mesin lebih besar. Jika hal tersebut terjadi, maka perusahaan justru akan merugi karena biaya perbaikan mesin biasanya akan jauh lebih mahal daripada biaya perawatannya. Kerugian lain juga akan didapatkan oleh perusahaan karena mesin yang rusak tidak akan mungkin bisa dioperasikan, akibatnya hasil produksi perusahaan akan menurun dan permintaan pasar pun tidak dapat dipenuhi oleh perusahaan.

Sumber: ciputrauceo

Cara Menghitung Biaya Overhead Pabrik

PENGERTIAN BIAYA OVERHEAD PABRIK

Ketika mengatur anggaran keuangan tiap bulan, pernahkah Anda menyisihkan sedikit uang untuk mengantisipasi pengeluaran-pengeluaran tidak terduga? Jika Anda pernah melakukannya, maka Anda adalah tipe orang yang selalu ‘sedia payung sebelum hujan’. 

Saat ini mulai banyak orang yang mengatur anggaran keuangannya dengan sangat detail. Mereka biasanya telah membagi keuangan mereka ke dalam kategori-kategori pengeluaran yang rutin mereka lakukan setiap bulan. Misalnya saja, anggaran untuk makan, bensin, hingga anggaran untuk cicilan rumah atau mobil. Sayangnya, belum banyak orang yang memasukkan kategori “pengeluaran tidak terduga” dalam anggarannya. Padahal, menganggarkan biaya tidak terduga dalam keuangan merupakan hal yang penting sebagai upaya menjaga kondisi keuangan Anda agar tetap stabil. 

Persiapan anggaran pengeluaran tidak terduga tidak hanya penting untuk dilakukan dalam penyusunan anggaran rumah tangga, namun penting pula untuk dilakukan oleh perusahaan. Istilah yang tepat untuk menyebut pengeluaran-pengeluaran tidak terduga sebuah perusahaan adalah biaya overhead pabrik.  

Biaya overhead pabrik (manufacturing overhead costs) adalah biaya produksi yang tidak masuk dalam biaya bahan baku maupun biaya tenaga kerja langsung. Apabila suatu perusahaan juga memiliki departemen-departemen lain selain departemen produksi maka semua biaya yang terjadi di departemen pembantu tersebut (termasuk biaya tenaga kerjanya) dikategorikan sebagai biaya overhead pabrik. Biaya overhead pabrik biasanya muncul dari biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk pemakaian bahan tambahan, biaya tenaga kerja tak langsung, pengawasan mesin produksi, pajak, asuransi, hingga fasilitas-fasilitas tambahan yang diperlukan dalam proses produksi.

 PENGGOLONGAN BIAYA OVERHEAD PABRIK

Sebelum menentukan anggaran biaya overhead pabrik, kita harus bisa menggolongkan biaya overhead pabrik terlebih dahulu. Dengan adanya penggolongan, kita akan lebih mudah dalam menentukan seberapa besar anggaran yang perlu disisihkan sebagai anggaran biaya overhead pabrik sesuai dengan usaha di perusahaan kita. Biaya overhead pabrik dapat digolongkan ke dalam tiga kriteria, yakni:

1. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut sifatnya

Berdasarkan sifatnya, biaya overhead pabrik dapat dibagi menjadi:

a. Biaya bahan penolong

Bahan penolong yang dimaksud dalam hal ini adalah bahan yang tidak menjadi bagian dari hasil produksi atau bahan yang nilainya relatif kecil dibandingkan harga keseluruhan produk. 

b. Biaya tenaga kerja tak langsung

Tenaga kerja tak langsung yang dimaksud dalam biaya overhead pabrik adalah tenaga kerja perusahaan yang upahnya tidak dapat diperhitungkan secara langsung kepada produk.

c. Biaya reparasi dan pemeliharaan

Biaya reparasi dan pemeliharaan yang dimaksud dalam biaya overhead pabrik adalah biaya suku cadang (spareparts), biaya bahan habis pakai (factory supplies), dan harga jasa yang perlu dikeluarkan perusahaan untuk keperluan perbaikan dan pemeliharaan mesin produksi, kendaraan, dan alat-alat perusahaan lainnya. 

2. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut perilakunya dalam hubungan dengan perubahan volume produksi.

Penggolongan biaya overhead pabrik yang selanjutnya dibagi berdasarkan perilakunya dalam hubungan dengan perubahan volume produksi. Perilaku biaya overhead pabrik ini dapat dibagi menjadi tiga golongan:

a. Biaya overhead pabrik tetap, yakni biaya overhead pabrik yang tidak berubah meskipun terjadi perubahan dalam volume produksi.

b. Biaya overhead pabrik variabel, yakni biaya overhead pabrik yang berubah sebanding dengan perubahan volume produksi.

c. Biaya overhead pabrik semivariabel, yakni biaya overhead pabrik yang berubah namun tidak sebanding dengan perubahan volume produksi. Untuk memudahkan penentuan tarif biaya overhead pabrik, biasanya biaya overhead pabrik semivariabel akan dipecah menjadi dua unsur yakni biaya tetap dan biaya variabel.

3. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut hubungannya dengan departemen.

Selain departemen produksi, sebuah perusahaan pasti memiliki departemen lain yang dikategorikan sebagai departemen pembantu. Berdasarkan hubungannya dengan departemen-departemen yang ada dalam perusahaan, biaya overhead pabrik dapat digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu:

a. Biaya overhead pabrik langsung departemen (direct departemental overhead expenses), yakni biaya overhead pabrik yang ada dalam sebuah departemen dan manfaatnya hanya dapat dinikmati oleh departemen tersebut.

b. Biaya overhead pabrik tidak langsung departemen (indirect departemental overhead expenses), yakni biaya overhead pabrik yang manfaatnya dapat dinikmati oleh lebih dari satu departemen.
ILUSTRASI BIAYA OVERHEAD PABRIK (SAMUEL/UCEO)
ILUSTRASI BIAYA OVERHEAD PABRIK (SAMUEL/UCEO)

METODE PENENTUAN TARIF BIAYA OVERHEAD PABRIK

Untuk menentukan tarif biaya overhead pabrik, perusahaan perlu memperhatikan jumlah tarif biaya overhead pabrik yang akan digunakan. Terdapat tiga alternatif yang dapat perusahaan digunakan untuk menentukan tarif biaya overhead pabrik, yaitu:

1. Plantwide Rate / Tarif Tunggal

Perusahaan hanya menggunakan tarif biaya overhead pabrik untuk pembebanan biaya overhead pabrik ke pesanan maupun produknya dari awal sampai akhir proses.

2. Departemental Rate / Tarif Departementalisasi

Perusahaan menetapkan tarif biaya overhead pabrik untuk setiap tahapan atau departemen produksi yang ada di perusahaan. Jumlah tarif biaya overhead pabrik tergantung dari tahapan atau departemen produksi yang ada.

3. Activity Rate / Tarif Setiap Aktivitas

Perusahaan menetapkan tarif biaya overhead pabrik untuk setiap aktivitas yang terjadi dalam pembuatan produknya. Cara ini dikenal dengan Activity Based Costing (ABC).

MENGHITUNG BIAYA OVERHEAD PABRIK

Untuk bisa menghitung biaya overhead pabrik, terdapat tahap-tahap yang harus dilakukan oleh perusahaan. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Menyusun anggaran biaya overhead pabrik

Penyusunan anggaran biaya overhead pabrik didasarkan pada volume kegiatan yang akan dilaksanakan di masa depan.

2. Memilih dan menaksir dasar pembebanan biaya overhead pabrik

Dasar pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk, dapat dipilih berdasarkan satuan produk, biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, jam tenaga kerja langsung, jam mesin. Sementara itu faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam pembebanan biaya overhead pabrik antara lain:

a. Memperhatikan jenis biaya overhead pabrik yang dominan jumlahnya dalam departemen produksi

b. Memperhatikan sifat-sifat biaya overhead pabrik yang dominan tersebut dan hubungannya dengan dasar pembebanan yang akan dipakai.

c. Menghitung tarif biaya overhead pabrik yang dapat dilakukan dengan rumus:


BERBAGAI RUMUS TAMBAHAN PENGHITUNGAN BIAYA OVERHEAD PABRIK

Selain rumus di atas, biaya overhead pabrik juga dapat dihitung berdasarkan jenis perusahaan. Macam-macam penghitungan dasar pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk antara lain:

a. Jumlah satuan produk

Metode ini langsung membebankan biaya overhead pabrik kepada produk dan lebih cocok digunakan dalam perusahaan yang hanya memproduksi satu jenis produk. Beban biaya overhead pabrik untuk setiap produk dihitung dengan rumus:

b. Biaya bahan baku

Apabila harga pokok bahan baku sebagai dasar pembebanan, maka tarif biaya overhead pabrik dapat dihitung dengan rumus:

Sebagai catatan, semakun besar biaya bahan baku yang dikeluarkan untuk mengolah produk, maka semakin besar pula biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk. Metode ini terbatas penggunaannya karena adanya kemungkinan sebuah produk dibuat dari bahan baku dengan harga yang mahal, sementara produk lain dibuat dari bahan yang lebih murah. Dalam kasus seperti ini, jika pengerjaan kedua produk sama, maka produk pertama akan menerima beban biaya overhead pabrik yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk yang kedua. 

c. Biaya tenaga kerja

Apabila sebagian besar elemen biaya overhead pabrik mempunyai hubungan yang erat dengan jumlah upah tenaga kerja langsung, maka dasar yang dipakai untuk membebankan biaya overhead pabrik adalah biaya tenaga kerja langsung. Tarif biaya overhead pabrik dihitung dengan rumus:

 Penting sebagai catatan, metode ini memiliki kelemahan karena biaya overhead pabrik harus dilihat sebagai tambahan nilai produk. Jumlah biaya tenaga kerja langsung juga dianggap meliputi upah tenaga kerja dari berbagai tingkatan yang ada dalam perusahaan. 

d. Jam tenaga kerja langsung

Apabila biaya overhead pabrik mempunyai hubungan erat dengan waktu untuk membuat produk, maka dasar yang dipakai untuk membebankan adalah jam tenaga kerja langsung. Tarif biaya overhead pabrik dihitung dengan rumus:

 e. Jam mesin

Apabila biaya overhead pabrik bervariasi dengan waktu penggunaan mesin maka dasar yang dipakai membebankan adalah jam mesin. Tarif biaya overhead pabrik dihitung dengan rumus

Sumber: ciputrauceo